Monday, January 9, 2017

Aku-Kamu... Kita

Kalau saja aku dan kamu menjadi kita
Mata ini tak akan basah saat menanggung rindu
Sedangkan rindu seperti tanpa jeda menghampiri
Menghimpit
Memaksaku tersungkur bersimbah kenangan tentangmu

Sedangkan aku dan kamu pernah dekat
Sangat dekat
Sampai detak jantungmu terdengar jelas di telingaku
Berdegup cepat tak beraturan
Seperti pandangan matamu saat itu
Susah payah menahan agar hujan tak jatuh di wajahmu
Seulas senyum perih terukir disana
Sebuah pelukan tanpa sentuhan
Hanya tangan saling mengepal kuat
Mencoba saling menguatkan

Perih...
Ketika mata kita saling membisikkan rasa
Sementara bibir sepatahpun tak mampu berucap
Janji kita terukir di langit
Dan ini biarlah cinta menjadi mitos abadi di hatiku dan hatimu
Sampai waktu menjadikan kita satu.

Arie Andarie

North point,
9 January 2017

Thursday, October 13, 2016

Kemana?

Kenapa berlari?
Siapa yang mengejarmu, sayang?
Aku sudah duduk manis, menunggu
Jangan berlari lagi, nanti kau terantuk batu
Jatuh...

Hei!
Kenapa kau sembunyi di sana?
Siapa yang mencarimu, sayang?
Aku bahkan tak mencarimu,
Keluarlah...

Lihat!
Matahari masih bersinar kan?
Buat apa kau berlari, kalau tak ada yang mengejar
Buat apa kau sembunyi, kalau tak ada yang mencari
Hidup tak semerepotkan itu sayang

Jauh sebelum kau memohon,
Maaf itu sudah kuberikan cuma-cuma padamu
Berhentilah disana, jangan melangkah terlalu cepat
Nanti kau jatuh lagi
Cobalah maafkan dirimu sendiri, sayang
Melangkahlah secara wajar
Hiduplah selayaknya manusia yang hidup
Aku masih setia menyebut namamu dalam doaku
Hiduplah sayang...

North point
12 oktober 2016
Arie Andarie

Saturday, September 24, 2016

PENGAMEN TUA

Entah lagu apa yg dia mainkan, aku juga tak tahu alat musik apa yang dia gunakan, yang pasti itu bukan ukulele. Kupikir itu semacam banjo, bentuknya seperti gitar tapi berbentuk bulat dengan 4 senar yang di petik. Lagu yang dia mainkan terasa sangat asing di telingaku, namun aku selalu tersenyum saat berlalu di hadapan dia. Bukan karena aku menyukai lagu yang dia mainkan, atau mengidolakan pengamen itu. Sama sekali bukan itu alasan kenapa aku selalu tersenyum.

Kukira dia lelaki tua berkebangsaan Amerika atau Scotlandia, usianya sekitar 70-75 tahun, suaranya parau saat mencoba menyanyikan lagu. Orang-orang di depan restotan cepat saji banyak yang acuh saja dan berlalu tanpa melirik apalagi menoleh. Banyak sekali di antara mereka yang menganggap lelaki itu buang-buang waktu saja.

Tepat dibawah lampu merah, dia selalu disana setiap akhir pekan, dengan ransel yang terlihat penuh di belakangnya, dan tas banjo yang berisi beberapa uang Hong Kong dolar, dia memperhatikan orag berlalu-lalang di depannya. Bila dia melihat raut wajah sedih atau marah, dia akan berkata lantang, "Hei kamu, Tersenyumlah..." dan karena itu tak pernah kubiarkan raut wajah sedihku terlihat oleh orang lain, apalagi pengamen ini. Karena suara paraunya sungguh mengagetkanku, dan bisa membuatku jatuh terjungkal di trotoar..

selalulah tersenyum, kalau bukan untuk orang lain, untuk dirimu sendiri saja dulu.

24 sept 2016
King's Road, North Point
Hong Kong

Thursday, March 24, 2016

Diam

Suatu ketika saya pernah berseteru dengan seorang sahabat, mungkin baginya perhatian yang saya berikan terlalu berlebihan menurutnya. Ketika itu aku melihat gelagat kesedihan pada raut wajahnya, sebisaku aku mencoba bertanya apakah aku bisa membantumu? Apakah aku bisa menghiburmu? Melepaskan sedikit sedihmu. Ceritakan masalahmu, sampaikan sedihmu. Tapi dia tetap diam, sampai berkata, aku pengen sendirian dulu, beri aku ketenangan.
Jlebh, seperti ada palu godam besar yg menghantamku, aku menangis sejadi-jadi-nya. Tanpa kusadari niat baikku malah menjadi suatu kejahatan, membuat sahabat ku sendiri merasa tak nyaman.lalu pantaskah aku menyebut diriku sebagai sahabat bila tak memberikan rasa nyaman pada sahabat ku sendiri.

Ketika Ada

"Rindu,,, kamu liat Galih nggak?" Tanya Mahardika begitu aku masuk kelas.
"Bukankah kalian satu kost? Kok nanya ke aku sih?" Jawabku keheranan.
"Kan kalian deket, siapa tau aja kamu tau dia kemana," Mahardika melengos kesel.
"Udah tanya si Gama? Kan dia ceweknya, Kali aja dia tau soal Galih," usulku demi melihat wajah ganteng didepanku ini cemberut.
"Ish, Gama malah curhat pas kutanyain soal Galih, pake nangis pula, HP juga gak aktif, pusing deh kalo gini," Mahardika terlihat makin cemberut.
"Ya udah santai aja, ntar aku kabarin kalo ketemu dia, palingan juga lagi naik gunung tuh anak, kayak gak tau kebiasaan si Galih aja kamu." Jawabku mencoba menenangkan. Mahardika berusaha tersenyum dan mengucap terima kasih kemudian berlalu keluar kelas.
Ah sudahlah, aku lebih memilih fokus pada masalahku sendiri daripada memikirkan Galih yang tak pernah jelas. Biarkan saja dia asik bersama komunitasnya, aku harus mencari kerja paruh waktu untuk membiayai hidupku di kota besar ini. Kepalang malu aku meminta bantuan Ayahku, istrinya terlalu nyinyir padaku. Andai saja Bunda masih ada, semoga Bunda damai disana. Aamiin.

Sabtu sore ketika aku sibuk update website online shop yang kukelola, tiba-tiba saja Galih menelfon, katanya ingin bertemu di taman dekat kost-ku. Ada rasa enggan ketika aku beranjak dari meja belajar Dan melangkah keluar. Tapi kupaksakan juga, semoga saja emosiku bisa kutahan saat bertemu dengannya.

Kami masih saling diam, tak saling pandang seperti biasanya, bahkan aku lebih memilih bermain game di ponsel, tanpa melirik sedikit pun ke arah Galih,hanya kutajamkan telingaku bersiap mendengar apa yg akan dia katakan.
"Rin, tolong aku, setelah di pecat bulan lalu, pemasukanku NOL. Bantu aku Rin, buat bayar kost aja, aku mau cuti kuliah, fokus cari kerja dulu, kamu tau kan bagaimana keadaanku?" Ucapnya lirih sambil menunduk.
Kuhentikan permainanku, kumasukkan ponsel ke saku celana, kutatapi rautnya yg menunduk dalam.
"Lihat aku Galih, kamu tau kan aku selalu bersedia menolongmu, selalu ada untuk kamu, saat kamu dalam masalah,aku pasti ada. Sekarang aku tanya, kamu dimana saat aku kemarin minta tolong menemaniku untuk hunting produk, kamu dimana saat aku berduka karena kepergian Bundaku, kamu dimana saat aku 3 hari terbaring sakit di kost tanpa bisa ke dokter, apakah saat itu aku menghubungimu? Iya kan, aku mencarimu, tapi kamu kemana?" Airmataku hampir tumpah, Galih makin menunduk.
"Coba kamu minta tolong sama teman komunitas mu itu yang selalu kau ajak tertawa, atau Gama yang selalu kau hibur saat dia sedih, atau Mahardika teman satu kost mu itu. Kamu, jangankan menghiburku saat sedih, saat aku kesakitan pun kamu pilih menjauh, alasanmu apa? Kamu gak tega liat aku kesakitan, gak kuat melihat aku menangis. Sekarang aku menangis, aku sedang kesakitan Gilang, pergilah menjauh dariku," ucapku sedikit parau. Kutinggalkan Gilang sendirian di taman, tanpa menoleh lagi, teriakan maafnya dikejauhan terdengar makin tajam menusuk ulu hati. Bagaimana mungkin kalimat maaf menjadi begitu menyakitkan.

Tadi sore sebelum pulang,aku mampir ke tempat kost Gilang, menemui Mahardika, padanya kutitipkan sejumlah uang untuk kost Gilang, mungkin aku bodoh, tapi aku tak sampai hati membiarkan dia dalam keadaan kacau di luar sana. Kusuruh Mahardika menemui Gilang segera dan aku pulang. Entah karena aku terlalu rindu Bundaku atau sibuk memikirkan soal mencari uang tambahan, sebuah motor ngebut menabrakku. Dan sekarang aku disini melihat jasadku ditangisi orang-orang di sebuah rumah sakit swasta. Gilang menangis paling histeris, sungguh menyayat hati, Mahardika disampingnya tampak berusaha menenangkan Gilang. Gama hanya terisak melihat kekasihnya menangis seperti itu, sambil sesekali melirik jasadku. Ayah terlihat lebih tenang, tapi aku hafal arti raut wajah itu, duka yg mendalam. Ibu tiriku terisak sambil memeluk si kecil Verno-Verni, si kembar yg selalu menyambutku dengan tawa saat aku berkunjung, mereka hanya memanggilku tanpa mengerti kenapa kakak nya di selimuti sampai menutupi wajahnya. Sekarang perjalanan ku di dunia selesai, tinggal me lanjutkan hidup di alam lain, mempertanggung jawabkan semua amalku semasa hidup. Kalian, hiduplah dengan baik, bisikku yang lebih mirip desau angin.

North Point
23 maret 2016
Ketika hujan bukan hanya diluar, tapi juga didalam hati.

Tuesday, March 15, 2016

Ketika saya mencoba bermain kata kata

Suatu hari seorang teman datang kepadaku dengan nada suara putus asa. Mungkin dia butuh seseorang yang bisa menenangkan gundah hatinya, dengan sederet doa salam hati, kucoba ulurkan tangan, kuberikan pendengaranku untuk mendengar keluhnya, kusodorkan bahuku untuk sekedar bersandar sejenak. Kemudian kuyakinkan dengan sederet kalimat, ada seulas senyum yang mungkin terlukis dari wajah sahdunya di seberang sana. Satu kata darinya, terima kasih. Dan aku mulai meraba hatiku, bisakah aku melakukan seperti yang kutuliskan ini?
Well apapun itu, kalimat ini, kutuliskan kembali, bukan untuk pamer dan sejenisnya, tapi untuk mengingatkanku, bahwa ikhlas itu wajib dilaksanakan, bila belum mampu, setidaknya jangan berhenti mencoba, akupun juga tak lelah mencoba setelah ribuan Kali gagal.

Thursday, December 17, 2015

Ketika Hati

Ketika hati mulai bercerita tentang dentingan rasa yang disebut Cinta
Saat itulah semestinya bibir diam sejenak menjadi pendengar
Dan biarkan telingamu yang meraba ke arah mana hatimu berbicara
Kata demi kata yang akan menjadi kalimat sudah bertautan,
Berebutan
Mencuat melalui celah jemarimu
Ada sedikit goresan pada permukaan rasa yang menyentuh sendi kehidupanmu
Itu bukan jelaga hitam yang harus dihapus
Bukan pula sayatan pisau yang menciptakan semburat darah
Itu hanya cinta yang menyapamu
Biarkan hatimu yang bercerita kawan
Cukup ikuti alurnya saja
Boleh kau bersenandung
Tak Salah juga bila kau sambil menari
Bahkan terkadang airmata yang menganak sungai itu bisa menjadi penenangmu ketika hati dan rasa mulai sontak beringas, menyeringaikan taringnya
Jangan berjalan mundur dan menjauh
Jangan pula berdiri diam terpaku
Tetapkan langkahmu kedepan
Boleh kau pelankan bila lelah
Namun jangan tergesa bila kau ingin cepat
Aturlah seindah mungkin
Cinta itu tidak pernah menyakiti
Cinta itu selalu melindungi
Bila kau terluka jangan salahkan cinta
Mungkin tanpa sengaja kau menginjak duri
Atau terantuk batu saat melangkah
Sejauh apapun jarak yang kau tempuh
Hati tak pernah punya batas pemisah pada cinta
Dan tetap biarkan hatimu yang berbicara
Ikuti saja alurnya
Jangan lelah
Cinta tak pernah ingkar pada bahagia
Cinta yang selalu menghalau nestapamu


Winter 16 desember 2016
North point ketika senja memeluk rinduku

Photo by Rheezald Taufik 

By Arie Andarie

Friday, October 9, 2015

HUJAN

Menghitung rinai yang menjuntai
Seperti tirai 
Indah
Kecipaknya adalah nyanyian sendu 
Rindu
Sedangkan aromamu adalah pesona

Pada kelabu yang menggantung
aku ceritakan tentang biru saat matahari
tentang awan putih yang berarak
dan panas yang membakar ubun ubun

Pada petir yang menggelagar
kusampaikan tentang indahnya nyanyian
burung dari ranting cemara
tentang embun yang perlahan menjadi uap

Ah hujan tahukah kamu
aku suka basahmu
aku suka gemuruhmu
aku suka bercerita pada guyuranmu

Ada lagi
aku ingin menari bersama rinaimu
dan menghitung kembali rintikmu
ini selaksa cerita lain tentang mu

Kamu yang selalu membasahiku
menelanjangi segala dukaku
sampai aku menggigil sendu 
memeluk dingin yang kian basah

Hujan
bilakah aku abadi dalam kisahmu
bilakah aku tetidur dalam pelukanmu
jemput aku bila rindumu sudah keterlaluan

Hujan
aku datang kepadamu saat kau memanggilku
saat kau ada
dan aku masih disana
ditempat yang sama
seperti kemarin
ketika kita bercinta

Hujan
hanyutkan senduku
aku rindu
ingin kau cumbu
sampai pada tahap yang tak terhitung




North Point, 09 oktober 2015
pada hujan yang masih lokal
aku rindu aroma mu

Wednesday, June 17, 2015

Welcome Again

Demi irama rindu yang menggedor dinding hati
Demi ingin seorang bocah di sana
Demi sebuah nama yang terlantun dalam doaku doamu
Inilah yang kau tunggu telah tiba
Menyapamu lagi
Mendatangimu lagi
Sudah pasti akan ada riuh yang terngiang di telinga
Akan ada aroma kolak pisang menjelang maghrib
Akan ada lantunan merdu ayat suci
Masih menjadi rindu yang sama
Menjadi rasa yang sama
Airmata ini masih bernama rindu
Rindu yang sama seperti tahun lalu
Selamat datang lagi rinduku
Akan kunikmati setiap hujan yang membasahi rasaku
Ramadhan dan Rindu
Aku padamu

Arie Andarie
North Point, 16 juni 2015

Sunday, May 10, 2015

Rinai

Aku dan hujan adalah kecipak tawa
Rinai beraroma doa yang mengangkasa
Berderai pada gumam gemuruh
Seperti blitz papparazi yang mengabadikan gelakku
Pada basah dan dingin yang memelukku
Kutemukan seraut wajah kecil berhias drama
Tawa itu semakin absurd,
Mungkin pada lelehan hujan di senyum sinisnya itu
Ada sejenis asin yang bernama tangis
Ah hujan
Masih saja menyimpan airmata yang disembunyikan
Ah hujan
Aku menikmati setiap rintikmu
Sampai habis, dan meninggalkan genangan
Hujan masih sama
Basah...

Arie Andarie
North Point, 10 Mei 2015

Saturday, May 9, 2015

Sekedar Rindu

Bisikmu itu semacam candu, menjelaga di relung rindu
Getar suaramu seperti sentuhan lembut yang membangunkan birahiku
Dan seperti rindu yang kemarin, semua rasaku terlucuti oleh sendu tatapmu
Ah,
Aku berlebihan mengumpamakan rindu kita
Bukankah masih tampak wajar dan.biasa saja
Belum sampai rindu yang membawaku pada sedu sedan
Masih wajar
Masih biasa saja
Sebagaimana biasa rindu yang juga kau rasakan
Sekedar rindu
Namun,
Hasrat kita membumbung melampaui cinta yang kita semai sayang
Bahkan genggaman yang kita menciptakan ikatan tak kasat mata
Seperti borgol atau pasang dan sejenisnya mungkin
Bolehkah aku tetap seperti ini sayangku?
Menikmati setiap lekuk kemarahanmu
Menikamati setiap sudut malumu
Dan cumbuan kita
Harus beradu dengan rindu yang masih sewajarnya ini

Arie Andarie
North Point, 09 May 2015

Monday, April 13, 2015

Usai

Berderai rindu
Luruh menganak sungai
Menyeringai segala resah
Jatuh terburai semua janji
Menyisakan asa
Membasahi luka
Aku tertahan pada rasa yang lalu

Tuesday, March 3, 2015

Aku padamu, Kamu padaku

Gugusan kalimatmu di pintu pagi
Terburai dan pecah di hembus angin
Terbang bersama embun yang mengkabut
Sedang satu sapamu tertinggal disini
Tercenung menunggu
Selaksa tanya untuk satu sapa
Dan tawa kita buncah kemudian
Bersama terik dan kepak camar
Menabur rasa di ujung ombak
Ya, kita bergemuruh dan basah
Gerimis tak lagi jatuh merintik
Namun menjelma jadi hujan
Seperti tirai atau tarian malam
Aku padamu, kamu padaku
Kemudian kita menjadi satu

Arie Andari
North Point, Hongkong
03 maret 2015

Wednesday, October 15, 2014

Percobaan Posting

millahirrohmanirrohiim

Sudah setahun lebih saya tak posting, kabar terakhir daku sedang merantau lagi, no more gadget buat ngeblog, ah alibi atau hanya malas, mungkin yang kedua lebih tepat :-). Menumpuk ide yang bertaburan di otak sampai menjamur dan kadaluarsa karena hanya disimpan tanpa diolah.

Satu tahun yang cukup berat, berpisah dengan buah hati dan suami di tanah air, seperti ini rasanya bila sedang LDR, sakitnya tuh disini (sambil nunjuk mata yang udah bengkak). Hati sensitif sekali jadinya, awalnya kupikir aku pastu bisa melewatinya dengan mudah, ya memang mudah saja, semudah aku mengucapkannya. Eits apa yang mudah sih? Apa saja, yang sulit dibuat mudah, yang berat dibuat ringan, sederhana saja.

Bismillahi Tawakaltu 'Allallohi, Laa Haula wa Laa Quwwata, Illa Billah. Doa yang kumantapkan dalam hati saat kaki melangkah keluar rumah, ada harapan dan tatapan nanar penuh tanya dari seorang bocah berusia dua tahun, ah maafkan bunda sayangku bisikku sambil memalingkan muka waktu itu. Tak sanggup aku terlalu lama melihatmu. Sepandai apa kau sekarang nak, ah bunda rindu, rinduu sekali. Selalu ada airmata yang terjatuh saat mengenang hari itu sayang.

Merantau saat kita masih berstatus anak sangat berbeda rasanya saat kita berstatus istri bahkan ibu, sungguh tak sedikit dera yang harus kutahan, entah berapa sendok gula yang harus kutambahkan pada cangkir kopiku, agar aku bisa mengukir semyum saat meminumnya. Godaan dari luar dan dalam yang semakin sulit kuhadapi, semua terasa seperti tontonan sinetron atau dongeng konyol yang cengeng.

Kembali lagi sebagai aku, aku sebagai manusia yang tak sempurna, yang banyak salah dan kekurangan, mencoba mencari jatidiri.

Setahun ini, ada banyak orang baru yang kutemui, sekedar berbagi tawa, ya aku suka membagi tawaku dengan mereka, ada banyak kisah dari kawan baru, suka duka dan hal-hal kecil yang sepele namun menyimpan hikmah besar disebaliknya. Hal-hal yang tak layak, namun menjadi pengobat resah saat mengenangnya.

Kalau sudah begini, apakah aku masih harus menangis lagi? Dan merutuki segala sial yang menghampiriku. Tak patut, sungguh tak patut. Alloh memberiku nikmat lebih banyak dari yang bisa kuhitung, bahagia itu sederhana, bersyukurlah atas apa yang kau miliki saat ini.

Thursday, September 5, 2013

SEKADAR POSTING

Mendengarkan cerita akan selalu menjadikan kegiatan uang mengasyikkan. Apalagi cerita tentang  menikmati semua jenis petualangan, lalu kenapa aku tidak ikut berpetualang saja? Bukankah akan menjadi lebih seru bila ikut serta dalam berpetualang? Tentu saja iya, dan aku ingin sekali, namun semua tak bisa terwujud, bukan karena aku seorang yang penyakitan atau tak punya nyali, tapi lebih kepada tidak mendapat dukungan dari keluarga, apalagi setelah menikah suami sama sekali tak mengijinkan aku ikut berpetualang atau sekedar mencoba menikmati hari santai dia alam terbuka. Susahnyaaaaa, tiu yang selalu kukeluhkan. Setiap kupertanayakan alas an kenapa? Yang ada malah akan menyulut pertengkaran baru. Well hanya bisa menikmati cerita teman-teman yang pernah melakukan petualangan saja, bisa sedikit mengobati rasa ingin tahu.

Ada beberapa kawan petualang yang bersedia berbagi cerita denganku, namun tak jarang aku malah minder bila bergaul dengan mereka, ada berbagai alas an, salah satunya karena status sosial, perbedaan pergaulan dan juga perbedaan selera berkawan. Mungkin bagi sebagian orang akan mengolokku begini, “kenapa musti minder dan merendah begitu, bukankah kita semua di mata Tuhan?”  aku sering mendengar kalimat seperti itu dari teman-temanku, yah mungkin saat kita tidak bertemu muka (ngobrol via internet chatting) hal itu akan terasa ringan saja, tapi akan terasa berbeda saat kita bertemu muka. Kenapa? Karena biasanya wajah di foto berebeda sekali dengan wajah kita saat bertemu langsung, lantas kerena factor ini tak jarang hubungan baik yang semula terjalin jadi renggang, hanya karena wajah yang tidak secantik/setampan difotonya.
Selanjutnya adalah soal tingkat pendidikan, ini juga sering menjadi semacam tembok yang memisahkan sebuah persahabatan. Semisal si A lulusan SMA lalu si B hanya lulusan SMP dan SI C malah sarjana apa gitu, maka obrolan akan menjadi sangat timpang, tidak seimbang lantas pelan tapi pasti aka nada yang minder dan memutuskan untuk menjauhi temannya.
Sementara itu perbedaan pekerjaan juga bisa menjadi pemicu selanjutnya, tak jarang kita temui, para pegawai akan lebih sering bergerombol dengan mereka yang juga pegawai, lantas yang hanya bekerja sebagai buruh mereka juga akan segan untuk ikut nimbrung dengan pegawai kantoran. Saya sendiri kadang juga malu kalau harus berlama-lama dengan mereka yang punya pekerjaan lebih mentereng dari pekerjaan saya yang hanya ibu rumah tangga, dan kadang kala malah jadi TKW. Secara harfiah mereka tak pernah mengatakan pekerjaan itu jelek, tapi ketika obrolan sampai pada soal pekerjaan maka saya akan cukup tahu diri meninggalkan obrolan tersebut, sangat tidak relevan sekali rasanya kalau mereka bercerita hal-hal yang berbau kantor sedangkan saya apa yang harus saya ceritakan kecuali hal-hal yang sifatnya hanya dapur dan bersih-bersih.
Lantas bagaimana dengan latar belakang ekonomi, ini juga menjadi hal yang paling sering dijadikan alas an seseorang untuk menjauhi temannya. Sering saya mendengar begini, “saya malu, bukankah kamu sekarang sudah kaya?” lantas ada juga yang begini, “kamu dari dulu kok begini-begini saja sih? Tak ada peningkatan,” sambil melihat keadaan rumah temannya yang masih kumuh.
Hellooooo…  meski semua alasan itu tidaklah baku, tapi cukup mengganggu bukan. Kadangkala kalau saya terpaksa bertemu dengan orang-orang yang berebeda dengan saya, maka topic pembicaraan akan lebih sering saya alihkan pada hobi atau isu-isu yang sedang menjadi headline suratkabar, atau hal-hal sepele yang ada disekitar kita. Untuk pembicaraan tentang latar belakang pendidikan, status sosial dan pekerjaan akan benar-benar saya hindari, karena hal itu hanya akan membuat saya semakin minder saja.
Lantas bagaimana dengan topic yang tadinya membahas tentang keinginan berpetualang di awal tulisan ini? maka disini saya akan tertawa dulu :D :D :D . inilah saya yang sering melencenga dari tema utama.
Well kembali pada awal cerita, karena keinginan berpetualangku yang tak pernah kesampaian kecuali sekali ikut jelajah melewati pesisir pantai dengan rute pantai Jonggring Saloko menuju pantai Ngliyep saat masih SMK kelas 2 dulu, tak ada lagi kegiatan petualangan yang say lakoni, maka sebagai pelampiasan saya sering mencari teman petualang dan memohon-mohon untuk menceritakan pengalaman mereka, keduaq membaca website milik seorang petualang yang sering mengulas perjalanan mereka di internet, terakhir nonton film sejenis 5CM dan SOE HOk GIE untuk memenuhi keingin tahuan saya tentang tempat-tempat indah berikut orang-orang yang sering mendatanginya. Lantas saya akan berkhayal dengan menuliskannya di blog pribadi saya, atau hanya menuliskannya di laptop dan menjadi arsip using yang tak pernah terposting karena merasa tak layak untuk dibaca umum, untuk kali ini silakan anda yang tertawa, diperbolehkan tertawa selebar-lebarnya sodara-sodara tapi awas kalau ada lalat masuk mulut ya? Anggaplah sebagai cemilan anda, :D :D :D
Buat kalian yang masih muda dan ada kesempatan, jangan pernah menyiakan-nyiakannya, perjuangkan apa yang menjadi keinginan kalian saat ini, tapi jangan lantas menghalalkan segla cara ya. Tetaplah berada jalurnya. Sebelum menyesal di kemudian hari, keep fight for the best result.

Wlngi, 05 sept 2013
3.43 pm


Monday, August 26, 2013

SEPENGGAL WAKTU 4 (FF)

04.59pm
Pantai Ngliyep
Bayangan kami yang berdiri bersebelahan mulai membentuk siluet diatas pasir, tak begitu indah tapi cukup membiaskan betapa pertemuan kali ini menjadi lebih berarti dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Seperti sepasang kekasih saja, padahal diantara kami terucap satu nkalimat cinta ataupun saying, tak pernah sekalipun kami membahas tentang perasaan kami masing-masing.
“Bagaimana perjalananmu kali ini? apakah cukup menyenangkan?” tanyaku penasaran begitu melihat matanya yang lurus dan lekat kearah pantai, bukankah dia selalu mengatakan pantai bukanlah tempat yang paling ingin dia kunjungi.
“Sejauh ini, aku merasa nyaman karena menemanimu, bukan hal lain, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja di tempat yang selalu menghembuskan angin kencang seperti ini,” jawabnya tanpa menoleh.
“Sekhawatir itukah kau dengan keadaanku mas? “  aku menunduk memainkan ujung syal yang melingkari leherku.
“Jangankan aku Nduk, semua orang akan melihat iba dengan keadaanmu yang seperti ini,” kali ini dia menoleh kearahku, mendekap tubuhku yang semakin kurus sejak sebulan terakhir ini.
“Apakah aku semakin buruk saja Mas,?” tanyaku sambil bersandar dibahunya.
“Kau tak pernah terlihat buruk dimataku, tapi kali ini kau lebih terlihat memprihatinkan,” jujur sekali ucapkan.
“Tidak bisakah kau sedikit berbohong, seperti biasanya, seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya,” pintaku lirih.
“Percuma, bagaimana aku bisa berbohong, bila melihatmu seperti ini, matamu sudah lebih cekung dari pertemuan kita sebelumnya, katakn padaku seberapa banyak kau kehilangan berat badanmu, berapa helai rambutmu yang sudah luruh ketanah, kau masih memintaku untuk berbohong? Kau bahkan lebih tahu keadaanmu Nduk,?” ucapnya pelan.
“Setidaknya katakan kalau aku ini gadis paling cantik yang pernah kau jumpai Mas,” ucapku mengukir senyum.
“Ya kaulah yang tercantik Nduk, kau yang paling cantik diantara semuanya,” getaran itu terasa memberatkan suaranya.
Debur ombak meningkahi obrolan kami, senja perlahan mulai merayap menjauh, menjadi gelap sebentar lagi gelap, aku menunggu rembulanku. Tak jauh dibelakang kami beberapa anak muda yang mengadakan kemah mulai menyalakan api unggun, sayup-sayup meaminkan gitar, sebuah lagu lama dari Flanella mengalun lembut, berseling dengan derai tawa mereka.
“Aku ingin melihat rembulanku dari sini, tunggulah sejenak Mas,” aku berusaha menarik lengannya yang hendak berdiri. Tatapan matanya menyalak memaksaku untuk mengikutinya, tapi tidak, aku tetap ingin disini, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melihat rembulan di pantai, debur ombak, amis air laut, batu karang yang menjulang, dan pasir putih yang lembut tempat inilah yang selalu kudatangi sejak kecil. Aku malah merebahkan tubuhku begitu saja diatas pasir, menunggu rembulanku. Akhirnya dia mengalah, duduk disebelahku sambil menggenggam pergelangan tanganku.
“Berjanjilah untuk tidak tertidur di tempat ini, berjanjilah untuk tetap bernafas saat kau menikmati rembulanmu Nduk,”
“Mas, apakah kau pikir ini adegan drama? Aku tidak akan semudah itu tumbang, aku bisa bertahan karena aku ingin menikmati satu malam di Rabukumbolo yang sering kau ceritakan itu,”
“Baiklah, berjanjilah kalau kau akan bisa kesana, dan nikmati sendiri edelweiss yang sangat ingin kau lihat itu,”
“Pasti, aku pasti bisa mencapai tempat itu sebelum ajalku menjemput,”
Debur ombak seolah membelaiku, inilah nyanyian alam terindah, nyanyian alam yang mengiringi hari kelahiranku dulu, itulah kenapa aku diberi nama Gadis Pantai. Tak tahu siapa yang melahirkanku saat itu, tapi di tempat inilah orang-orang menemukanku menangis, melawan kerasnya suara ombak yang menelan habis tangisku saat itu. Di tempat ini juga aku dulu bergelung melawan kerasnya kehidupan.
“Nduk kenapa kau mendadak jadi begitu berarti untukku?” sayup suaranya membuatku membuka mata, dan bulan sabit kali ini seperti tersenyum manis kepadaku, itu senyum milik pria berkacamata disampingku.
“Mas, kau sudah lama tidak tersenyum semanis itu kepadaku, kumohon, tersenyumlah seperti bulan sabit itu,” ucapku sambil menunjuk bulan sabit di langit.
“Seandainya senyumku kali ini bisa semanis rembulanmu,” kemudian kulihat dia mulai menarik kedua sudut bibirnya dan itulah senyumnya. Tapi tak lama, kemudian dia menunduk, melepas kacamatanya, kurasakan punggungnya bergetar.
Aku bangkit, dan berusaha memeluknya, “Mas, lihatlah aku. Bukankah aku ini gadis paling cantik yang pernah kau temui,” ucapku sambil meraih pundaknya, berharap dia mendongak dan melihat kearahkau menyuguhkan senyuman manisnya lagi.
Diluar dugaan dia malah meraihku dalam dekapannya, “aku masih hidup Mas, aku belum mati,” ucapku pelan.
“Aku baru merasa kau benar-benar berarti Nduk, berjanjilah untuk tetap hidup untukku,”
“Ya, aku berjanji Mas, aku akan tetap hidup,” bisikku pelan.
Tak jauh dati kami suara derai tawa anak-anak yang berkemah beberapa berubah jadi suitan-suitan olok-olok, kemudian lagu lawas yang berjudul Kemesraan mereka mainkan, terdengar menanangkan dan penuh semangat kebersamaan.
“Mas, apakah sekarang kita pacaran?” celutukku jahil setelah dia melepaskan pelukannya.
“Hahahaha, terserah kamu saja Nduk,” tawanya kali ini terasa begitu ringan ditelinga.

Wlingi, 26 agt 2013

06.06 pm

Saturday, August 24, 2013

SEPENGGAL WAKTU 3 (FF)

Mencoba romantis? Jangan harap bisa dia lakukan kepadaku. Seharian ini aku sebenarnya merasa sakit kepalaku kian menghebat, tapi demi lelaki berkacamata yang duduk di sampingku kali ini aku bisa menahannya, bahkan aku bisa bertahan untuk tidak mengeluh. Semalam mendadak dia datang ke rumah bersama seorang teman lainnya, mengajakku ke Gunung Kelud untuk survey lokasi, entah apa yang dia lakukan bersama teman-teman sehobinya itu, aku hanya mengikuti saja sebagai penunjuk jalan yang baik sekaligus pemandu wisata dadakan.
Sedangkan temannya sibuk mengambil gambar di sekitar Anak Gunung Kelud, dia malah asik berselonjor kaki disampingku. Tak peduli dengan beberapa orang yang juga asyik berpose disekitar kami, dia terlihat acuh, sama acuhnya sepertiku yang duduk begitu saja di pinggir tangga.
“Nduk, kamu sakit? Kenapa pucat?” tanyanya tanpa melihat atau menoleh ke arahku, matanya malah sibuk mengamati tebing di seblah Anak Gunung Kelud.
“Aku baik-baik saja, kalau sakit, saat ini aku tak mungkin mengiyakanmu untuk mengantar sampai ketempat ini,” ucapku berbohong.
“Berkacalah, bahkan bedakmu itu tak mampu member rona segar seperti biasa saat kau tertawa atau sekedar diam menekuri tanah yang kau pijak seperti saat ini,” kali ini mata dibalik kaca mata itu menatapku tajam, menuntutku untuk jujur.
Aku menggeleng kuat, lalu berdiri memasukkan tangan di saku celana jins ku, “percayalah Mas, aku masih mampu menahan tubuhku sendiri, bila saatnya tiba tanpa kau mintapun aku akan bercerita padamu, semuanya.”
“Dasar kepala batu, kalau tahu begini kemarin seharusnya aku mengabari dulu kalau akan menemuimu, bukannya mendadak dan memeberimu kejutan seperti tiu ya,” ucapnya sambil mengalungkan syal rajutannya ke leherku, “kau kedinginan, aku tahu itu,” sambungnya, kemudian melangkah beberapa langkah di depanku, membidikkan kameranya ke beberapa arah.
Aku berbalik, memandangi Anak Gunung Kelud yang terus mengeluarkan asap, tempat ini dulunya adalah kawah, tapi setelah meletus beberapa tahun yang lalu, muncul kubah lava yang lama kelamaan menjadi sebesar ini.
“Kau harus menunggu sampai langit gelap bila ingin menikmati pijar lava itu, akan lebih indah katanya, atau naiklah ke puncak Gajah Mungkur untuk menikmati sunset di tempat ini,” ucapku pada pria berkacamata dan temannya yang tak berdiri tak jauh dari tempatku.
Seorang temannya membri isyarat agar menemaninya sampai malam, tapi pria berkacamata itu malah merengut kesal, dan beralih menatapkutajam, ada marah dari tatapannya kali ini.
“Tak masalah, aku masih bisa menemani kalian, tempat ini tak memberatkanku, aku sanggup untuk menuruni pemandian air panas di Sungai Bladak, kemudian naik ke Puncak Gajah mungkur itu,” ucapku sambil menunjuk ke suatu arah yang menurutku menjadi tujuan yang akan kami datangi.
“Tidak, tujuan kita kesini hanya survey lokasi bukan untuk yang lainnya, stelah ini kita langsung pulang saja, tak perlu senekat itu kau Nduk,” ada getar cemas dari kalimat yang dia ucapkan barusan.
Sementara temannya melihatku berharap aku membujuknya lagi untuk mau tinggal sampai langit gelap, aku hanya menggeleng pelan, dan mengisyaratkan “bukankah dia teman baikmu?”, dia malah balas menatapku seolah mengatakan,”untuk kali ini kau yang bisa menguasainya,” dan sekali lagi aku menggelang menandakan kalau aku tak berani membantah kalimatnya barusan.
Terlihat dua pria itu berdebat memunggungiku, sambil sesekali menoleh kearahku, pasti pria berkacamata itu terlalu khawatir, kuputuskan untuk menghampirinya.
“Untuk sampai di Puncak Gajah Mungkur hanya perlu mendaki 492 anak tangga, aku akan mengalah untuk tidak menuruni 1000 anak tangga menuju Sungai Bladak, kalau kau memang khawatir denganku,” aku menoleh pada pria berkacamata, dan menatap tegas pada bola matanya. Sementara temannya malah sudah tersenyum-senyum senang, sambil memainkan ujung jaketnya mungkin dia yakin kalau kalimatku barusan bisa membuat pria berkacamata ini mengucapkan kalimat “iya”.
Dia mendekap kedua lenganku, dan menatapku tajam, “kamu yakin bisa?” ucapnya kemudian, aku hanya perlu mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaan barusan, dan benar saja, ketika dia menoleh pada temannya dan mengangguk samar, pria yang berdiri disebelahnya itu melonjak girang, bahkan hampis terjatuh dari pinggir anak tangga.
Aku hanya mengulum senyum kecil, “mas kamu mirip sama anak itu,” ucapku padanya sambil menunjuk anak usia Sembilan tahunan berkuncir dua dengan jaket warna pink yang dari tadi lonjak-lonjak antara senang dan tak sabar. Dia langsung terdiam kemudian tertawa lebar, sedangkan pria berkacamata disampingku malah terlihata tak yakin dengan anggukannya barusan, sekali lagi aku meyakinkannya, menaruh tanganku pada pundaknya agar dia menoleh dan melihat anggukan kesungguhanku.
Aku berusaha menepi, menjauhi mereka, menyembunyikan penat dan pening yang menghebat, sambil memandangi punggung pria berkacamata yang sempat mengisi hari-hari terakhirku, mungkin iya, mungkin juga tidak. Kurapatkan jaketku sambil bersedekap dan bersandar pada palang besi pinggir tangga, ikut berjejer dengan fotografer instan di tempat itu.


Wlingi, 24 agt 2013

11.54

Thursday, August 22, 2013

LELE BUMBU KUNING

Ikan lele, siapa sih yang gak kenal ikan berkumis yang seksi ini. ikan air tawar yang hobi hidup di sungai atau kolam penangkaran ini emang populer banget bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka penyuka kuliner ikan air tawar.
Well, lele memang sangat mudah dibudidayakan, ikan ini sangat tahan dengan berbagai jenis cuaca dan keadaan air yang ekstrim, harganya yang murah (sekitar 14.000/kg) menjadikannya sebagai primadona tersendiri pagi penggemarnya.
Coba deh kamu amati di berbagai rumah makan khas Indonesia, pasti disana ada menu ikan lele. Entah itu dimasak kering atau berkuah, pedes atau yang gurih tanpa cabe.
Kamu tahu nggak kalau ikan lele itu sehat untuk otak dan jantung, karena mengandung omega 3 & 6, asam amino yang tinggi dapat meningkatka masa otot dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, selain itu kandungan vitamin B12 pada ikan ini juga cukup tinggi lo, so masih ada yang jijik dengan ikan lele?
Well well well, kali ini saya akan mencoba mengolah ikan lele hasil tangkapan suami menjadi masakan berkuah yang bikin lidah bergoyang. Mau coba, yuuuuk sama-sama belajar masak, toh saya juga bukan seseorang dengan tingkat keahlian expert soal masak memasak. Lets get start it.


Bahan & bumbu:
-          Ikan lele (siangi dan cuci bersih)
-          Minyak untuk menggoreng
-          Santan
-          Bawang putih 3 siung
-          Bawang merah 7 butir
-          Kemiri 1 btr
-          Sdkt ketumbar
-          Kunyit
-          Jahe
-          Cabe merah 2
-          Cabe rawit 15
-          Daun jeruk pecel/nipis 2 lbr
-          Beberapa pucuk daun kemangi muda
-          Garam
-          Gula
-          Tomat
-          Air
Cara memasak:
-          Goreng ikan lele yang sudah bersih sampai garing kulit luarnya, tujuannya supaya tidak hancur ketika dimasak
-          Haluskan bawang merah, bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit, kemiri, cabe merah besar, 5 cabe rawit, daun jeruk, gula dan garam. Bila malas menggunakan cobek, bisa diblender.
-          Tumis bumbu yang sudah halus, menggunakan minyak baru, jangan menggunakan jelantah/minyak bekas menggoreng lele, selain merusak tampilan masakan, juga mempengaruhi cita rasa.
-          Stelah aroma dari bumbu halus wangi, masukkan sisa cabe rawit dan irisan tomat, tumis sebentar, kemudian masukkan ikan lele yang sudah digoreng.
-          Ungkep dgn api kecil & sedikit air kurang lebih selama lima menit
-          Lalu tuang santan kental, didihkan tp jgn sampai santannya pecah, lalu matikan api. Dan masukkan pucuk daun kemangi.
-          Dan lele kuah kuning siap dinikmati, bersama nasi hangat dan sambel (kalau kurang pedes sih)





Tuesday, August 20, 2013

SEPENGGAL WAKTU 2 (FF)

20.57 WIB
Stasiun  kereta api Waru, Sidoarjo.
Sudah terlalu larut, perjalanan yang melelahkan hampir 5 jam duduk diam di dalam kereta membuat otot-ototku terasa kaku. Kuambil ponsel dari dalam kantong celana, cekatan akau mengetikkan kalimat “Mas , aku sudah sampai,” kemudian kutekan tombol send setelah menambahkan 12 deretan angka yang kuhafal di luar kepala. Ringan saja aku menuju toilet, mengambil wudhu dan menunaikan ibadah di mushola stasiun. Tak terlalu banyak orang di mushola, aku  bisa sambil beristirahat sejenak setelah ibadah, tapi sebuah sms yang berbunyi, “Aku menunggu di depan Tebasco,” membuatku segera bangkit keluar dari stasiun. Lelaki berkacamata itu sudah duduk disana dengan dua gelas kopi panas, aromanya sudah menyapaku dari radius 5 meter.
“Keretanya telat mas, tadi rodanya kempes,” sapaku santai sambil melempar sebuah senyuman, kemudian mengambil tempat didepannya.
“Bisa aja kamu,” jawabnya pendek sambil menyodorkan salah satu gelas berisi kopi padaku, “semoga kamu suka,” imbuhnya.
“Terima kasih, sudah merepotkanmu lagi Mas,”
“Udah biasa direpotin,” jawabnya cuek.
Kemudian kami saling terdiam, deru kendaraan yang lalu lalang lebih mendominasi ruang diam kami, aku sibuk dengan pikiranku sendiri begitupun dia. Namun pandangan kami tak lepas dari arah jalan raya, menikmati segala kesibukannya, tenggelam dalam deru knalpot, klakson mobil, debu jalanan dan warna-warni lampu yang saling tumpang tindih memenuhi langit kota Sidoarjo.
“Mas, aku ingin menikmati rembulan dari sini, sepertinya akan sangat cantik,” bisikku sambil mendongak ke langit.
“Sejak kapan kamu berubah romantis nduk,?” ada sinis dalam kalimatnya barusan.
“ Ini bukan sekedar romantisme belaka mas, seperti kamu yang lebih menyukai pegunungan aku, lebih suka menikmati langit malam,” jawabku tanpa menoleh kepadanya.
“Di sini kau tak akan menemukan rembulanmu, kota ini tertutup polusi, sampai lehermu sakit rembulanmu tak akan pernah indah bila kau pandang dari tempat ini,”
“Meski hanya remang-remang, tapi aku cukup senang menikmati samar cahayanya dari tempat ini,”
“Ikutlah denganku, aku akan mengajakmu menikmati rembulan yang lebih indah, di suatu tempat, yang tak pernah kau sangka-sangka,” ucapnya sambil menarik lenganku, memaksaku bangkit dan mengiuti langkahnya.
“Kemana mas?”
“Ikut saja, nanti kau akan tahu, jangan takut, aku bahkan tak berniat menyentuhmu sama sekali, kau aman bersamaku Nduk, “ ucapannya kali ini membuatku menerima helm yang di berikan padaku.
Baiklah, aku akan aman, bukankah pria ini sudah berjanji padaku via chatting semalam. Dia akan mengajakku gowes besok pagi, dari kotanya ke kotaku, dan keputusan sudah kuambil, aku menyetujui menemuinya lagi malam ini. Jadi sangat naïf bila aku masih meragukan pria ini, tapi katanya aku juga harus waspada pada setiap orang, terutama yang paling dekat dan paling baik denganku. Ya aku harus tetap waspada dengannya. Aku agak ragu naik ke boncengan motornya.

22.10
Rumah pria berkacamata, di atas genteng lantai dua.
“Bagaimana dengan rembulanmu? Sedikit lebih indah kan?” pria berkacamata itu sedikit berteriak padaku, dia lebih memilihh menungguku di balkon.
“Sedikit lebih baik,” ucapku sambil bersedekap tangan.
“Kenapa kau menyukai rembulan Nduk,”
“Rembulan itu bisa menjelma menjadi seribu wajah, siapapun yang aku rindukan bisa kulihat wajahnya ketika aku melihat rembulan,”
“Lalu bila rembulan sedang tidak terlihat, bagaimana kau akan melihat sesorang itu,?”
“Pejamkan mata sejenak, kemudian ketika kau membukanya, maka rembulanmu sendiri akan muncul disana, diantara bintang, terserah kau ingin rembulanmu seperti apa, dia akan muncul begitu saja, mengikuti arah pikiranmu,”
“Untuk urusan rembulan, kau mendadak jadi romantis Nduk,”
“Mas, aku akan tidur disini malam ini, aku suka tempat ini,”
“Eh, jangan gila kamu Nduk, bisa dikira maling kamu kalo tidur disitu, ayo turun.”
Aku bergeming, dan malah mencoba memejamkan mata, kubebaskan semua resahku, disini, dibawah rembulan, dibawah bayangan wajah baru yang terukir di atas sana.

“Beri aku 15 menit saja Mas,” ucapku demi membuat pria berkacamata itu berhenti meneriakiku.
"Baiklah malam ini puaskan hasratmu pada rembulan itu, tapi besok jangan harap kau bisa menggannguku dengan kalimat bodohmu itu," pria berkacamata itu bersungut-sungut sebal, sambil menghisap rokok kreteknya dan memainkan pnsel pintarnya.
Taukah kau, wajah yang terukir di rembulanku kali ini adalah kamu, ya wajah itu kamu, dan degup ini untukmu, kupandangi punggungnya, tiga bulan dari sekarang aku benar-benar tak bisa menikmati kesenangan ini lagi.Bila kau mengetahuinya, bawakan aku aroma edelweis dari setiap pendakianmu, sampaikan saja pada rembulanku.


wlingi, 20 agt 2013
10.45 pm

jagoan kecil kami