Wednesday, June 17, 2015

Welcome Again

Demi irama rindu yang menggedor dinding hati
Demi ingin seorang bocah di sana
Demi sebuah nama yang terlantun dalam doaku doamu
Inilah yang kau tunggu telah tiba
Menyapamu lagi
Mendatangimu lagi
Sudah pasti akan ada riuh yang terngiang di telinga
Akan ada aroma kolak pisang menjelang maghrib
Akan ada lantunan merdu ayat suci
Masih menjadi rindu yang sama
Menjadi rasa yang sama
Airmata ini masih bernama rindu
Rindu yang sama seperti tahun lalu
Selamat datang lagi rinduku
Akan kunikmati setiap hujan yang membasahi rasaku
Ramadhan dan Rindu
Aku padamu

Arie Andarie
North Point, 16 juni 2015

Sunday, May 10, 2015

Rinai

Aku dan hujan adalah kecipak tawa
Rinai beraroma doa yang mengangkasa
Berderai pada gumam gemuruh
Seperti blitz papparazi yang mengabadikan gelakku
Pada basah dan dingin yang memelukku
Kutemukan seraut wajah kecil berhias drama
Tawa itu semakin absurd,
Mungkin pada lelehan hujan di senyum sinisnya itu
Ada sejenis asin yang bernama tangis
Ah hujan
Masih saja menyimpan airmata yang disembunyikan
Ah hujan
Aku menikmati setiap rintikmu
Sampai habis, dan meninggalkan genangan
Hujan masih sama
Basah...

Arie Andarie
North Point, 10 Mei 2015

Saturday, May 9, 2015

Sekedar Rindu

Bisikmu itu semacam candu, menjelaga di relung rindu
Getar suaramu seperti sentuhan lembut yang membangunkan birahiku
Dan seperti rindu yang kemarin, semua rasaku terlucuti oleh sendu tatapmu
Ah,
Aku berlebihan mengumpamakan rindu kita
Bukankah masih tampak wajar dan.biasa saja
Belum sampai rindu yang membawaku pada sedu sedan
Masih wajar
Masih biasa saja
Sebagaimana biasa rindu yang juga kau rasakan
Sekedar rindu
Namun,
Hasrat kita membumbung melampaui cinta yang kita semai sayang
Bahkan genggaman yang kita menciptakan ikatan tak kasat mata
Seperti borgol atau pasang dan sejenisnya mungkin
Bolehkah aku tetap seperti ini sayangku?
Menikmati setiap lekuk kemarahanmu
Menikamati setiap sudut malumu
Dan cumbuan kita
Harus beradu dengan rindu yang masih sewajarnya ini

Arie Andarie
North Point, 09 May 2015

Monday, April 13, 2015

Usai

Berderai rindu
Luruh menganak sungai
Menyeringai segala resah
Jatuh terburai semua janji
Menyisakan asa
Membasahi luka
Aku tertahan pada rasa yang lalu

Tuesday, March 3, 2015

Aku padamu, Kamu padaku

Gugusan kalimatmu di pintu pagi
Terburai dan pecah di hembus angin
Terbang bersama embun yang mengkabut
Sedang satu sapamu tertinggal disini
Tercenung menunggu
Selaksa tanya untuk satu sapa
Dan tawa kita buncah kemudian
Bersama terik dan kepak camar
Menabur rasa di ujung ombak
Ya, kita bergemuruh dan basah
Gerimis tak lagi jatuh merintik
Namun menjelma jadi hujan
Seperti tirai atau tarian malam
Aku padamu, kamu padaku
Kemudian kita menjadi satu

Arie Andari
North Point, Hongkong
03 maret 2015

Wednesday, October 15, 2014

Percobaan Posting

millahirrohmanirrohiim

Sudah setahun lebih saya tak posting, kabar terakhir daku sedang merantau lagi, no more gadget buat ngeblog, ah alibi atau hanya malas, mungkin yang kedua lebih tepat :-). Menumpuk ide yang bertaburan di otak sampai menjamur dan kadaluarsa karena hanya disimpan tanpa diolah.

Satu tahun yang cukup berat, berpisah dengan buah hati dan suami di tanah air, seperti ini rasanya bila sedang LDR, sakitnya tuh disini (sambil nunjuk mata yang udah bengkak). Hati sensitif sekali jadinya, awalnya kupikir aku pastu bisa melewatinya dengan mudah, ya memang mudah saja, semudah aku mengucapkannya. Eits apa yang mudah sih? Apa saja, yang sulit dibuat mudah, yang berat dibuat ringan, sederhana saja.

Bismillahi Tawakaltu 'Allallohi, Laa Haula wa Laa Quwwata, Illa Billah. Doa yang kumantapkan dalam hati saat kaki melangkah keluar rumah, ada harapan dan tatapan nanar penuh tanya dari seorang bocah berusia dua tahun, ah maafkan bunda sayangku bisikku sambil memalingkan muka waktu itu. Tak sanggup aku terlalu lama melihatmu. Sepandai apa kau sekarang nak, ah bunda rindu, rinduu sekali. Selalu ada airmata yang terjatuh saat mengenang hari itu sayang.

Merantau saat kita masih berstatus anak sangat berbeda rasanya saat kita berstatus istri bahkan ibu, sungguh tak sedikit dera yang harus kutahan, entah berapa sendok gula yang harus kutambahkan pada cangkir kopiku, agar aku bisa mengukir semyum saat meminumnya. Godaan dari luar dan dalam yang semakin sulit kuhadapi, semua terasa seperti tontonan sinetron atau dongeng konyol yang cengeng.

Kembali lagi sebagai aku, aku sebagai manusia yang tak sempurna, yang banyak salah dan kekurangan, mencoba mencari jatidiri.

Setahun ini, ada banyak orang baru yang kutemui, sekedar berbagi tawa, ya aku suka membagi tawaku dengan mereka, ada banyak kisah dari kawan baru, suka duka dan hal-hal kecil yang sepele namun menyimpan hikmah besar disebaliknya. Hal-hal yang tak layak, namun menjadi pengobat resah saat mengenangnya.

Kalau sudah begini, apakah aku masih harus menangis lagi? Dan merutuki segala sial yang menghampiriku. Tak patut, sungguh tak patut. Alloh memberiku nikmat lebih banyak dari yang bisa kuhitung, bahagia itu sederhana, bersyukurlah atas apa yang kau miliki saat ini.

Thursday, September 5, 2013

SEKADAR POSTING

Mendengarkan cerita akan selalu menjadikan kegiatan uang mengasyikkan. Apalagi cerita tentang  menikmati semua jenis petualangan, lalu kenapa aku tidak ikut berpetualang saja? Bukankah akan menjadi lebih seru bila ikut serta dalam berpetualang? Tentu saja iya, dan aku ingin sekali, namun semua tak bisa terwujud, bukan karena aku seorang yang penyakitan atau tak punya nyali, tapi lebih kepada tidak mendapat dukungan dari keluarga, apalagi setelah menikah suami sama sekali tak mengijinkan aku ikut berpetualang atau sekedar mencoba menikmati hari santai dia alam terbuka. Susahnyaaaaa, tiu yang selalu kukeluhkan. Setiap kupertanayakan alas an kenapa? Yang ada malah akan menyulut pertengkaran baru. Well hanya bisa menikmati cerita teman-teman yang pernah melakukan petualangan saja, bisa sedikit mengobati rasa ingin tahu.

Ada beberapa kawan petualang yang bersedia berbagi cerita denganku, namun tak jarang aku malah minder bila bergaul dengan mereka, ada berbagai alas an, salah satunya karena status sosial, perbedaan pergaulan dan juga perbedaan selera berkawan. Mungkin bagi sebagian orang akan mengolokku begini, “kenapa musti minder dan merendah begitu, bukankah kita semua di mata Tuhan?”  aku sering mendengar kalimat seperti itu dari teman-temanku, yah mungkin saat kita tidak bertemu muka (ngobrol via internet chatting) hal itu akan terasa ringan saja, tapi akan terasa berbeda saat kita bertemu muka. Kenapa? Karena biasanya wajah di foto berebeda sekali dengan wajah kita saat bertemu langsung, lantas kerena factor ini tak jarang hubungan baik yang semula terjalin jadi renggang, hanya karena wajah yang tidak secantik/setampan difotonya.
Selanjutnya adalah soal tingkat pendidikan, ini juga sering menjadi semacam tembok yang memisahkan sebuah persahabatan. Semisal si A lulusan SMA lalu si B hanya lulusan SMP dan SI C malah sarjana apa gitu, maka obrolan akan menjadi sangat timpang, tidak seimbang lantas pelan tapi pasti aka nada yang minder dan memutuskan untuk menjauhi temannya.
Sementara itu perbedaan pekerjaan juga bisa menjadi pemicu selanjutnya, tak jarang kita temui, para pegawai akan lebih sering bergerombol dengan mereka yang juga pegawai, lantas yang hanya bekerja sebagai buruh mereka juga akan segan untuk ikut nimbrung dengan pegawai kantoran. Saya sendiri kadang juga malu kalau harus berlama-lama dengan mereka yang punya pekerjaan lebih mentereng dari pekerjaan saya yang hanya ibu rumah tangga, dan kadang kala malah jadi TKW. Secara harfiah mereka tak pernah mengatakan pekerjaan itu jelek, tapi ketika obrolan sampai pada soal pekerjaan maka saya akan cukup tahu diri meninggalkan obrolan tersebut, sangat tidak relevan sekali rasanya kalau mereka bercerita hal-hal yang berbau kantor sedangkan saya apa yang harus saya ceritakan kecuali hal-hal yang sifatnya hanya dapur dan bersih-bersih.
Lantas bagaimana dengan latar belakang ekonomi, ini juga menjadi hal yang paling sering dijadikan alas an seseorang untuk menjauhi temannya. Sering saya mendengar begini, “saya malu, bukankah kamu sekarang sudah kaya?” lantas ada juga yang begini, “kamu dari dulu kok begini-begini saja sih? Tak ada peningkatan,” sambil melihat keadaan rumah temannya yang masih kumuh.
Hellooooo…  meski semua alasan itu tidaklah baku, tapi cukup mengganggu bukan. Kadangkala kalau saya terpaksa bertemu dengan orang-orang yang berebeda dengan saya, maka topic pembicaraan akan lebih sering saya alihkan pada hobi atau isu-isu yang sedang menjadi headline suratkabar, atau hal-hal sepele yang ada disekitar kita. Untuk pembicaraan tentang latar belakang pendidikan, status sosial dan pekerjaan akan benar-benar saya hindari, karena hal itu hanya akan membuat saya semakin minder saja.
Lantas bagaimana dengan topic yang tadinya membahas tentang keinginan berpetualang di awal tulisan ini? maka disini saya akan tertawa dulu :D :D :D . inilah saya yang sering melencenga dari tema utama.
Well kembali pada awal cerita, karena keinginan berpetualangku yang tak pernah kesampaian kecuali sekali ikut jelajah melewati pesisir pantai dengan rute pantai Jonggring Saloko menuju pantai Ngliyep saat masih SMK kelas 2 dulu, tak ada lagi kegiatan petualangan yang say lakoni, maka sebagai pelampiasan saya sering mencari teman petualang dan memohon-mohon untuk menceritakan pengalaman mereka, keduaq membaca website milik seorang petualang yang sering mengulas perjalanan mereka di internet, terakhir nonton film sejenis 5CM dan SOE HOk GIE untuk memenuhi keingin tahuan saya tentang tempat-tempat indah berikut orang-orang yang sering mendatanginya. Lantas saya akan berkhayal dengan menuliskannya di blog pribadi saya, atau hanya menuliskannya di laptop dan menjadi arsip using yang tak pernah terposting karena merasa tak layak untuk dibaca umum, untuk kali ini silakan anda yang tertawa, diperbolehkan tertawa selebar-lebarnya sodara-sodara tapi awas kalau ada lalat masuk mulut ya? Anggaplah sebagai cemilan anda, :D :D :D
Buat kalian yang masih muda dan ada kesempatan, jangan pernah menyiakan-nyiakannya, perjuangkan apa yang menjadi keinginan kalian saat ini, tapi jangan lantas menghalalkan segla cara ya. Tetaplah berada jalurnya. Sebelum menyesal di kemudian hari, keep fight for the best result.

Wlngi, 05 sept 2013
3.43 pm